Sabtu, 27 Agustus 2022

BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

 BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH 

Oleh : Friska Deliana Purba, CGP Angkatan V Dari SMK Negeri 7 Medan, Sumatera Utara




Guru sebagai pamong dapat memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Guru diharapakan memiliki nilai-nilai positif yang dibutuhkan untuk membentuk karakter pelajar pancasila dengan memberi contoh dan melakukan pembiasaan yang konsisten di sekolah. Pengembangan budaya positif dapat menumbuhkan motivasi intrinsik dalam diri anak untuk menjadi pribadi yang bertanggungjawab dan berbudi pekerti luhur serta akhlak mulia.

Salah satu cara menciptakan budaya positif di sekolah adalah dengan menerapkan Dimensi Profil Pelajar Pancasila, diantaranya adalah :

  • Beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia. 
  • Mandiri 
  • Bernalar Kritis 
  • Berkebinekaan Global 
  • Bergotong royong
  • Kreatif

Keyakinan Kelas

Penerapan budaya positif juga dapat dilakuka dengan membuat Keyakinan Kelas / Keyakinan Sekolah. Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit. Contoh dari Keyakinan kelas atau keyakinan sekolah adalah sebagai berikut :
  • Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal.
  • Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif.
  • Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas.
  • Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut.
  • Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat.
  • Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu

Restitusi - Lima Posisi Kontrol

  1. Melalui serangkaian riset dan berdasarkan pada teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer. Mari kita tinjau lebih dalam kelima posisi kontrol ini:
  2. Penghukum: Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal.
  3. Pembuat Merasa Bersalah: pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat rasa bersalah akan menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah diri.
  4. Teman: Guru pada posisi ini tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap berupaya mengontrol murid melalui persuasi. Posisi teman pada guru bisa negatif ataupun positif.
  5. Pemantau: Memantau berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi.
  6. Manajer: Posisi terakhir, Manajer, adalah posisi di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid
  7. Mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. 

Guru Harus Mengambil Posisi Kontrol Sebagai Manajer dan Menerapkan Budaya Positif di Sekolah.

Posisi kontrol yang masih sering kita gunakan dalam menghadapi siswa di Sekolah adalah posisi penghukum dan pemantau. Namun dalam penerapan budaya positif di sekolah, yang harus diambil adalah posisi kontrol sebagai Manajer. Dimana dalam posisi kontrol ini, guru dan siswa mencari solusi atas pemecahan masalah, dan siswa bertanggung jawab atas tindakan yang dia lakukan.

Segitiga Restitusi

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004) 

Dalam menyelesaikan masalah yang terjadi disekolah yang disebabkan oleh tindakan siswa, maka dapat dilakukan penerapan Segitiga Restitusi.


Adapun langkah-langkahnya adalah :

  1. Menstabilkan Identitas (Stabilize the Identity) Bagian dasar dari segitiga bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses.
  2. Validasi Tindakan yang Salah (Validate the Misbehavior) Setiap tindakan kita dilakukan dengan suatu tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan dasar. Kalau kita memahami kebutuhan dasar apa yang mendasari sebuah tindakan, kita akan bisa menemukan cara-cara paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
  3. Menanyakan Keyakinan (Seek the Belief) Teori kontrol menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi secara internal. Ketika identitas sukses telah tercapai (langkah 1) dan tingkah laku yang salah telah divalidasi (langkah 2), maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan. 
Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini menghubungkan keyakinan anak dengan keyakinan kelas atau keluarga.
  • Apa yang kita percaya sebagai kelas atau keluarga? 
  • Apa nilai-nilai umum yang kita telah sepakati? 
  • Apa bayangan kita tentang kelas yang ideal? 
  • Kamu mau jadi orang yang seperti apa?
Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. 

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes